Selasa, 20 Mei 2008

Perjalan pulang


Bis yang saya tumpangi dalam perjalanan pulang Lebak budi-Tangerang telah sampai di pelabuhan Bakaheni Lampung. Perlahan bis memasuki kapal laut yang akan membawa saya dan penumpang yang lain menyebrangi selat sunda menuju pelabuhan Merak. Setelah bis masuk lalu saya keluar bis untuk menuju dek penumpang, ku lihat waktu sudah jam 5 pagi. Ku bergegas menuju tempat wudhu untuk berwudhu dan berjalan ke musholah yang berjarak 10 meter dari tempat wudhu. Di musholah yang sangat kecil berukuran 2 x 2 meter saya sholat berjama’ah. Para penumpang bergantian sholatnya dikarenakan ruangan yang kecil.

Selesai sholat saya berjalan mengelilingi kapal. Ku melihat aktifitas pedangan yang menawarkan minuman panas dan berbagai makanan, pembeli yang sedang menikmati minuman panas yang mebuat badan mereka hangat. Begitu nikmat saat minuman itu mereka teguk. Subhanalloh keniknatan yang Alloh berikan, Alloh meciptakan teh dan kopi yang dapat kita buat menjadi minuman. Ku lanjutkan langkah ini ke sudut lain, ku melihat seorang yang sedang tertidur lelap terlihat goresan kekelahan di wajahnya. Subhanalloh Alloh memberikan rasa kantuk dan nikmat tidur, tak terbayangkan bagaimana bila kita makhluk-Nya dan makhluk-Nya yang lain tidak diberikan nikmat tidur dalam hidup ini. Kaki ini terus melangkah dan berhenti di ujung kapal, lalu ku duduk menikmati segarnya udara pagi.

Tuuuutttt…..tuuuuttttt….tuuuuuttt…suara trompet kapal berbunyi menandakan kapak akan segera meninggalkan pelabuhan. Perlahan dan pasti kapal berjalan mengarungi lautan luas, pelabuhan Baka Heni semakin lama semakin hilang. Ku memandang seluruh alam ini sejauh mata menandang dan terdiam lalu hatiku bersyair.

Ketenangan laut kala fajar kemerahan

Memberikan alam kedamaian

Menawarkan hatiku ketentraman

Menghanyutkan diriku dalam lamunan

Walau banyak kapal yang menghempas lautan

Laut tetap dalam ketenangan

Seolah tak terpengaruh oleh hempasan

Laut tetap dalam zikir ketenangan

Fajar kemerahan terlihat du ujung langit

Memberikan warna lain pada langit

Menawarkan hatiku kehangatan

Membawa diriku pada hakikat kehidupan

Langit berhiaskan putihnya awan

Merah, biru dan putih menampakan kecerahan

Menawarkan hatiku kesucian

Membuat diriku tahu pada hakikat hidup

Ku tersadar dari diamku lalu munculah beberapa pertanyaan pada diri ini.
Dapatkah diri ini selalu tenang dalam menghadapi ujian hidup ini seperti tenangnya laut?
Dapatkah diri ini memberi warna kehangatan dalam hidupku sendiri dan hidup orang lain seperti kehangatan yang fajar berikan pada langit?
Dapatkah diri ini menjaga kesucian hati yang Alloh berikan pada diri ini?

Aku tak tahu apakah bisa melakukannya tapi aku berjanji akan selalu berusaha untuk mewujudkan itu semua. Aku teringat Firman Alloh.

Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya. Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk (Nya). di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS Ar-Rahman : 5-13)

Jakarta, 20 Mei 2008

Selasa, 25 Maret 2008

Ingin seperti air

Gw pengen seperti Air.
Air hujan yang memberikan kesejukan di panasnya kehidupan
Air sungai yang mengairi sawah-sawah, permukiman hingga ke laut
Air terjun yang memberikan ketenangan dengan suara ngemerciknya
Air mata yang dapat memberikan kepuasan emosional
Mata air yang tak kan pernah kering, yang akan selalu menyirami setiap hati yang kering, memberikan kehidupan baru dan membuat hati terhanyut mengikuti alirannya yang bermuara ke lautan yang luas membentang, tempat berkumpulnya semua hati yang rindu pada ridho-Nya.
Tapi gw hanya setetes air yang tiada guna.

Minggu, 09 Maret 2008

Bahasa Bintang

Langit malam terbentang gelap kebiruan
Kecerian tertampilkan dengan cerahnya hamparan awan
Rembulan pun ikut memberikan sinarnya memambah keindahan
Suasana malam terasa sempurna dengan semilir anginya berhembus tenang

Gugusan bintang tersusun indah membentuk barisan rasi
Berjuta bintang saling berkelip seolah mereka berbicara
Berbicara tentang bahasa hati
Berbicara tentang bahasa cinta

Di sudut sana terlihat sebuah bintang
Sendiri tak berada di tengah-tengan gugusan rasi
Sepi jauh dari germelap kelipan bintang-bintang
Bintang yang lain, rembulan, angina bahkan langit tak perduli

Kelipannya usang menggambarkan kesedihan
Cahayanya redup menggambarkan ketidakberartian
Keberadaannya menggambarkan kesendirian
Kau tetap memberikan kepada semua yang bisa kau berikan

Tak tampak lagi di dirinya bahasa hati
Tak tampak lagi di dirinya bahasa cinta
Yang ada pada dirinya hanya bahasa kebisuan
Yang tertinggal pada dirinya hanya bahasa kesedihan

Apakah kelipmu masih dibutuhkan semua
Apakah sinarmu masih mewarnai langit
Apakah keberadaanmu masih diperdulikan
Tetaplah bersinar walau dalam kesendirian, kesedihan dan ketidakberartian

Tangerang, 8 Maret 2008

Selasa, 04 Maret 2008

Sawah, Hutan dan Lautku

Hamparan sawah hijau menguning begitu luas
Burung-burung menari dan berkicau menyanyikan lagu gembira
Anak-anak kecil bermain bersama kerbau penuh canda tawa
Pak tani mengayunkan cangkulnya dengan penuh senyuman

Satu per satu hamparan sawah berkurang dan menghilang oleh keserkahan manusia
Kini berdiri gedung-gedung yang menjulang penuh keangkuhan
Tak lagi kulihat tarian burung-burung, canda anak-anak dan cangkulan Pak tani
Tak lagi kudengar kicauan burung-burung, tawa anak-anak dan senyuman Pak tani

Hijaunya hutan terbentang luas mewarnai alam Indonesia
Memberikan kesejukan bagi kita dan alam sekitar
Tempat tinggal hewan-hewan yang selalu menyanyikan lagu kehidupan
Sumber air dan oksigen serta penetral alami terbesar carbon

Hijaunya hutanku sedikit demi sedikit hilang dari bumi katulistiwa
Habis oleh keserakahan dan keangkuhan manusia
Tak ada lagi nyanyian lagu kehidupan yang terdengar hanya lagu kematian
Tak ada lagi kesejukan udara yang kurasa di alam Indonesia

Biru laut memberikan kenyamana bagi makhluk yang hidup didalamnya
Berjuta-juta jenis ikan dan karang tersaji di indahnya taman laut
Suara deruan ombak menyanyikan lagu keceriahan
Mengiringi pelaut mencari nafkah di luasnya lautan

Kini kenyamanan itu sudah tak ada lagi
Berjuta-juta ikan dan karang mati oleh keegoisan manusia
Lagu keceriahan ombak berubah menjadi lagu kemarahan
Laut seolah tak mau memberikan nafkahnya kepada pelaut

Dimanakah kini hijau menguning sawahku
Dimanakah kini hijau hutanku
Dimanakah kini biru lautku
Dimanakah kini Indonesiaku yang dulu

Telah tampak kerusakan di alam ini oleh keserakaha, keangkuhan dan keegoisan manusia
Alam yang diamanahkan oleh Sang Kholik kepada manusia tak terpelihara
Wahai manusia yang serakah tak ingatkah amanat yang engkau embank dari-Nya
Wahai manusia yang sombong tak takutkah engkau kepada azab-Nya

Bukankah Allah telah mengajarkan kepada kita melalui Rasul-Nya
“Sayangilah apa-apa yang ada dimuka bumi niscaya kamu akan disayangi oleh Dzat yang ada di langit”. (HR. Thabrani dan Hakim)

Kamis, 28 Februari 2008

Tetap Melangkah Sahabat

Ku lalui terik sinar matahari siang bersama nasihatmu
Panas yang terasa menjadi kesejukan di hatimu
Canda tawamu menemani kala hujan turun di hatiku
Kesedihan yang terasa menjadi penuh makna di hatiku

Malam yang ku lewati tanpamu membuat hati jemu
Angin malam menambah pilu kesendirian hatiku
Tiba-tiba senyummu hadir mengusir jemu
Dinginnya angina malam terasa hangat oleh bayanganmu di hatiku

Tetaplah melangkah Sahabat tanpa ragu
Jemputlah matahari dan bidadarimu
Aku kan senang dan tak merasa ditinggalkan olehmu
Bayangan, senyum dan nasihatmu teringat selalu di hatiku

Meski kau telah mendapatkan mataharimu
Sampai kapanpun aku tetap sahabatmu
Meski kau telah menemukan bidadarimu
Kau tetap sahabatku di dalam hidupku

Persaudaraan yang terjalin karena keimanan tak kan terputus
Persaudaraan yang terbina oleh ketakwan akan abadi
Karena Allah yang akan menjaganya
Tetaplah melangkah jangan menyerah sahabatku

Tangerang, 23 Februari 2008

Rabu, 20 Februari 2008

Pelajaran Hidup

Kala senja berakhir malam pun tiba
Bintang-bintang bertaburan di luasnya langit
Tersusun rapih memperlihatkan keanggunannya
Tapi keanggunan bintang lenyap di kala fajar terbit

Rembulan pun hadir mengiasi langit malam
Menampakan kesempurnaan wujudnya
Memberikan keindahan sinarnya kepada malam
Tapi kesempurnaan keindahan rembulan hilang di kala pagi tiba

Malam pergi digantikan fajar pagi
Matahari dengan gagahnya memberikan pelitanya
Pelita yang memberikan kehangatan bagi makhluk dibumi
Kegagahan mentari pun tenggelam dikala senja

Keanggunan bintang dan keindahan bulan hilang ditelan pagi
Kegagahan pelita matahari pun hilang diawal malam
Tidak ada kehidupan sempurna bagi manusia di dunia ini
Kesempurnaan hanya milik Allah Yang Maha Besar

Banyak sekali tanda-tanda kebesaran Allah
Pergantian matahari dengan rembulan dan bintang
Bergulirnya waktu dari malam ke siang
Tidakkah kamu dapat menarik hikmah dari semuanya

Hiduplah sesuka kamu tapi ingat kamu akan mati
Cintailah siapa yang kamu kehendaki tapi ingat kamu akan berpisah dengannya
Berbuatlah apa saja yang kamu kehendaki tapi awas semuanya ada balasannya
Tidakkah kamu dapat menarik pelajaran dari kehidupan ini

Tangerang, 20 Februari 2008

Do'a Dhuha

Ya ALLAH, bahwasanya waktu dhuha itu adalah waktu-Mu

Dan Keagungan itu adalah keagungan-Mu

Dan Keindahan itu adalah Keindahan-Mu

Dan Kekuatan itu adalah kekuatan-Mu

Dan Perlindungan itu adalah perlindungan-Mu

Ya ALLAH, jika rizkiku masih di atas langit maka turunkanlah

Jika masih di bawah bumi maka keluarkanlah

Jika masih sukar maka mudahkanlah

Jika (ternyata) haram maka sucikanlah

Jika masih jauh maka dekatkanlah

Berkat waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan-Mu

Limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang soleh.

Amiin Ya Robbal Alamin.

Shalat, Puasa dan Sedekah

" Shalat mengantarkanmu ke setengah perjalanan, Puasa mengantarkanmu ke depan pintu dan sedekah memasukkan ke dalamnya"

- 'ABD AL-'AZIZ IBN 'UMAR-

Mata

MATA ADALAH TEMPAT MEMANCING BAGI SETAN.

-'ALI IBN ABI THALIB-

Telinga dan Mulut

"Perlakukan telingamu dan mulutmu secara proporsional; engkau diberi dua telinga dan satu mulut agar lebih banyak mendengar daripada berbicara"

- ABU DARDA R.A.-

Minggu, 17 Februari 2008

Sahabat

Langit malam terlihat cerah berseri indah
Rembulan memperlihatkan kesempurnaan sinarnya
Bintang tak mau ketinggalan memberikan keceriahan
Angin menghembuskan kelembutan

Tiba-tiba awan gelap datang dan menyelimuti langit
Angin bertiup kencang menusuk ke jiwa
Sinar rembulan lenyap seolah meninggalkan langit
Hanya bintang yang setia dan tetap memberikan sinarnya

Sahabat engkaulah sang bintangku
Selalu menemani di setiap keadaan
Kau ulurkan tanganmu di saat aku terpuruk
Memberikan semangat untuk bangkit

Terima kasih sahabat ata uluran tanganmu
Ma'afkan aku yang belum bisa membalas uluran tanganmu
Semoga persahabatan ini tetap terjalin
Semoga persahabatan ini menjadi persaudaraan

Ku susun untaian kata-kata ini hanya untukmu Sahabat
*Friendship and BrotherHood*

Tangerang, 16 Februari 2008

Gadis Berkerudung Putih

Wahai gadis berkerudung putih
Kerudungmu mencerminkan kesucian diri
Kesucian seorang muslimah sejati
Kau tetap menjaganya di dalam kehidupan ini

Wahai gadis berkerudung putih
Kau memiliki pancaran mata yang indah
Pancaran mata yang terjaga pandanganya
Pancaran mata ketakwaan kepada Allah SWT

Wahai gadis berkerudung putih
Kau memiliki senyuman yang manis
Senyumanmu senyuman keimanan
Berikanlah senyumanmu untuk semua

Wahai gadis berkerudung putih
Tutur katamu penuh kelembutan
Menyujukan hati seperti embun pagi
Membuktikan Islam penuh kelembutan

Ingin ku menjadi matahari hatimu
Tapi kau sudah memiliki matahari di hatimu
Biarlah aku menjadi embun di hatimu
Walau hanya sesaat sebelum terbitnya mataharimu

Ingin ku menjadi rembulan yang menghiasi malammu
Tapi kau sudah memiliki rembulan di hatimu
ku coba menjadi bintang walau sinarnya tak seindah rembulamu
Ku tetap mencoba menjadi bintang meski kau tak memandangku

Bila aku tak bisa menjadi matahari, embun, rembulan atau bintang di hatimu
Mungkin aku hanya angin bagi hatimu yang hadir sekejap tanpa meninggalkan kesan di hatimu
Semonga matahari dan rembulanmu terus menyinari hatimu
Bila kau memerlukan teman ingatlah bintang di jauh sana yang tetap berusaha menemani malammu

Tangerang, 15 Februari 2008

Siapakah Sinarku

Ku berjalan di jalan yang gelap gulita
Tanpa cahaya yang menyinari setiap langlah
Walau langkah ini tertatih da hanya meraba
Ku tetap melngkah meski tak tahu arah

Ku melihat sebuah sinar di tempat yang jauh
Ku tujukan langkah ini untuk menggapai sinar itu
Ku harap nantinya sinar itu dapat menyinari langkahku yang rapuh
Dalam usaha menuju tujuan hidup di jalan-Mu

Sekian lama tertatih ku melangkah
Dengan menepis semua keraguan dan kebimbangan
Ku berhasil mendekati dan menggapainya
Ku genggam dengan kedua tangan agar tak terlepas

Dengan sinarnya jalan ini tampak terang
Tapia pa yang terjadi aku terlalu terlena oleh kilauannya
Aku lupa dengan janji hati setelah menggapai sang sinar
Karena kilau sinarnya ku terperosok ke dalam jurang

Tanpa kusadari di sebelah jalan ini ternyata jurang
Jurang yang tak ku ketahui seberapa dalamnya
Jurang yang tak ku ketahui seberapa gelapnya
Ku sadari sebenarnya jalan yang ku lalui sangat sempit

Ku bersyukur karena tangan kiriku dapat menggapai bibir jurang
Ku hanya menggantungkan harapanku pada seberapa kuat tangan kiri ini
Tangan kananku memegang sang sinar tak mau melepasnya
Semakin lama tangan kiri ini sudah tak kuat lagi

Tangan kanan ini harus melepaskan sang sinar
Masih banyak orang lain yang membutuhkan sinarnya aku harus melepasnya
Ku lepaskan sang sinar dan perlahan ia pergi
Ku berhasil keluar dari juranag dan sang sinar sudah pergi

Dalam lelahku ku bersujud penuh kehambaan kepada-Mu
Betapa tidak bersyukurnya hamba atas semua Nikmat-Mu
Dalam gelap dan sunyi ku teteskan air mata keinsyafan di hadapan-Mu
Betapa banyak dosa yang sudah hamba perbuat kepada-Mu

Kini dalam gelap ku berdiri sendiri
Berusaha tetap melangkah menuju jalan-Mu
Ku sadari ku membutuhkan sebuah sinar yang dapat menemaniku
Ya Allah berikanlah sebuah sinar yang terbaik untuk menemani hamba dalam meniti jalan-Mu
(Maukah kau sang gadis berkerudung putih menjadi sinarku)
Ku melihat beberapa sinar di ujung sana
Sinar yang berbeda satu dengan yang lainnya
Diri ini bimbang ke sinar yang mana kaki melangkah
Diri ini resah apakah kejadian yang lalu terulang kembali

Ya Allah Yang Maha Mengetahui
Limpahkanlah Cahaya Nur-Mu ke dalam hati hamba
Tumbuhkanlah keyakinan dalam hati hamba pada satu sinar yang terbaik di sisi-Mu
Bimbinglah langkah ini agat tidak terperosok ke jurang dalam menjemput sang sinar dan setelah menggapainya.

Tangerang, 12 Februari 2008

Taman Hati

Kulihat sebuah taman hati yang sangat indah. Di dalamnya banyak tumbuh tanaman bunga yang bunganya merekah sangat indah dan berwarna-warni. Ku perhatikan dari banyaknya tanaman bunga yang tumbuh, ada tanaman bunga yang paling besar, berdiri kokoh dan memiliki bunga paling besar serta paling indah. Keindahannya tak dapat diungkapkan dengan kata-kata walaupun dengan kata-kata yang paling indah dari pujangga terbaik di dunia ini. Di dekatnya tumbuh tanaman bunga yang tak kalah indahnya. Bila diperhatikan lebih dalam kedua tanaman bunga ini tidak dapat dipisahkan, tanaman bunga ini selalu berdampingan. Bila salah satu layu pasti yang satu lagi akan layu juga. Kedua tanaman bunga ini merupakan inti keindahan dari taman hati ini. Tanaman bunga ketiga yang memiliki keindahan setelah yang dua tadi, memiliki dua cabang. Setiap cabang memiliki bunga, tapi cabang yang satu memiliki tiga buahbunga yang sama besar dan keindahannya, bunga ini memperlihatkan kelembutan dan kasih sayang sedangkan cabang yang lain hanya memiliki satu bunga saja, bunga ini memperlihatkan kepemimpinan dan tanggung jawab. Masih banyak lagi tanaman bunga yang indah tumbuh mengelilingi ketiga tanaman bunga ini.

Karena keindahan taman hati ini, membuat diri ini terhayut dalam kenikmatan, kenyamanan ynga dirasakan. Merasa diri ini seperti kupu-kupu yang berterbangan di sekitar bunga-bunga itu setelah puas lalu hinggap.

Ada satu hal yang membuat diri ini heran. Di taman hati itu tidak tumbuh satu pun rumput ilalang yang dapat menodai keindahan bunga. Dalam hatiku bertanya siapakan pemilik taman hati itu. Ingin hati ini bertanya kepadanya bagaimana dapat memiliki dan merawat taman hati seperti ini. Bila ke resapi lebih mendalam keindahan taman itu, ada dua perasaan yang timbul dalam diri ini. Perasaan senang dan sedih, senang karena keindahannya sedangkan sedih karena taman hati ini sangat berbeda keadaannya.

Walaupun ketiga tanaman bunga yang indah itu tumbuh dan berbunga tapi tumbuhnya tidak sebesar dan bunganya tidak seindah dengan tanaman bunga di taman hati yang kulihat. Dan juga tumbuh tanaman bunga yang lain. Tapi ada ruangan yang kosong sehingga tumbuhlah rumput ilalang. Semakin lama rumput itu semakn besar. Sudah berulang kali ku mencoba mecabutnya tapi rumput itu tumbuh lagi dan lagi. Aku sadar seharusnya ruang kosong ini ditanami dengan tanaman bunga agar rumput itu tak tumbuh lagi. Itulah yang sangat aku inginkan tapi aku bingung bagaimana caranya. Apakah harus menunggu tanaman bunga itu tumbuh dengan sendirinya atau menunggu ada yang memberi tanaman bunga yang aku inginkan lalu menanamnya ataukah aku harus membeli tanaman bunga yang aku inginkan lalu menanamnya. Bila aku harus menunggu, berapa lamakah harus ku tunggu dan bila sudah tumbuh apakah bunga ini sesuai dengan keinginanku. Bila menunggu ada yang memberi, apakah ada seseorang yang mau memberikan bunganya. Bila harus membeli, dengan apakah aku membelinya apakah dengan harta atau dengan yang lain. Diri ini binggung……

Aku tersadar mengapa aku tidak memperhatikan dan memelihara tanaman bunga yang sudah ada terutama tanaman bunga yang menjadi inti taman hati ini. Ma’afkan aku yang selalu terlena dengan bunga-bunga yang kecil dan jarang menyiram ketiga tanaman bunga ini dengan air mata kerinduan, air mata kasih sayang dan air mata keinsyafan karena tanpa air bunga tidak akan dapat tumbuh dengan segar.

Aku berjanji akan menjaga bunga-bunga yang sudah tumbuh dalam taman hati ini. Biarlah ruang kosong yang ada kosong untuk sementara waktu. Aku akan menunggu bunga itu tumbuh dengan sendirinya atau aku akan menunggu ada seseorang yang memberikan bunganya atau bila harus membeli aku akan membelinya dengan rasa kasih sayang bukan dengan harta.

Aku berharap taman hati ini selalu terpelihara indah walau indahnya tak seindah taman hati yang lain.

Tangerang, 8 Februari 2008

Tersentak Diam

Suara deru ombak menghempas lautan
Terdengar indah berirama merdu
Melantunkan lafaz zikir kepada Tuhan Semesta Alam
Membuat diri ini terhanyut dalam lantunan zikir sang ombak

Hembusan angina berhembus lembut
Membelai semua makhluk dengan belaian kasih sayang
Belaian zikir kepada Allah Yang Maha Penyayang
Membuat diri ini damai oleh belaian zikir sang angin

Ayunan bunga yang mekar dibelai angin
Ayunan yang teratur mengiringi belaian zikir sang angin
Ayunan zikir kepada Allah Yang Maha Pengasih
Membuat diri ini terbawa dalam ayunan zikir sang bunga

Terikan halilintar menggema di ujung langit
Meneriakan lafaz zikir pengangungan Allahu Akbar
Membuat diri ini tersentak diam
Menyadarkan betapa sedikit waktu diri ini berzikir kepada-Nya

Ya Allah Yang Maha Pengampun
Ampuni hamba yang sering terlena oleh dunia dan jarang mengingat-Mu

Tangerang, 8 Februari 2008

Makna Memiliki

Malam-malam yang telah lalu
Ku lewati dengan keceriahan
Walau aku dalam kesendirian
Karena ada satu bintang yang berkilau

Langit malam ini terasa gelap tanpa cahaya
Hanya belaian lembut angin malam
Tiba-tiba kilaumu hadir menghiasi langitku
Memberi arti makna kesendirian dan kesepianku

Kini kau dan kilaumu menghilang
Walau ada banyak bintang lain
Langit malamku terasa sepi dan gelap
Memberi arti makna memiliki dan kehilangan

Sudikah kau hadir sesaat dan mendengarkan rintihan hatiku
Aku ingin kau menjadi teman sejatiku
Aku berjanji akan menjaga dan menemanimu
Telah kuungkapkan semuanya sekarang terserah kau

Tangerang, 5 Februari 2008

Lembar Kenangan

Kau yang pernah menghiasi taman hati ini
Yang sebelumnya hati ini merasa hampa
Memberikan warna-warna keindahan
Tapi kini warna-warna itu memudar dan hilang

Kau yang pernah menemani diri ini
Yang dulu diri ini sendiri dan sepi
Memberikan sinar kehangatan dan semangat
Tapi kini sinar kehangatan itu bias dan hilang

Apa yang membuat kau pergi meninggalkanku
Saat hati ini ingin memberikan yang terbaik untukmu
Ma’afkan hati ini yang tidak dapat menjagamu
Menjaga warna keindahan dan sinar kesangatanmu

Walau kau telah pergi meninggalkanku selamanya
Diri ini akan mengingatmu selalu dalam hati ini
Menjadikan kenangan dalam buku hidupku
Yang akan selalu kujaga kerapihan dan keindahannya

Semoga warna keindahan dan sinar kehangatanmu
Terjaga dan terbalas dalam taman hati yang lain
Tetaplah memberikan warna dan sinarmu
Bukan hanya untuk dia tapi untuk dunia

Tangerang, 30 Januari 2008

Menjemput Cita-cita dan Lagu Kematian

Langit begitu gelap diselimuti awan hitam
Gemuruh halilintar bersahutan
Diikuti badai yang bertiup kencang
Seolah menyanyikan lagu kematian

Aku harus tetap melangkah menjemput cita-cita
Tak seharusnya aku takut pada suara halilintar dan badai
Masih ada lagi yang lebih mengerikan dari itu semua
Suara tiupan sangkakala dan badai kematian

Aku tidak boleh berdian diri saja
Menunggu semua ini berakhir
Dan berganti dengan suasana yang lebih baik
Karena aku tak akan tahu kapan akan berakhir

Aku harus tetap merencanakan semuanya
Semua yang akan aku jalani dalam hidup ini
Mempersiapkan bekal dalam menghadapi kematian
Mempersiapkan bekal hidup diakhirat yang abadi

Tangerang, 26 Januari 2008

Pasir, Karang dan Pohon Kelapa

Hamparan pasir di pesisir pantai
Seluas mata memandang seolah tak bertepi
Ombak laut menghempas lembut jutaan pasir di pesisir pantai
Beribu-ribu kali seolah tak berhenti

Kucoba menulis sebuah kata di hamparan pasir
Kata itu hilang bersama hempasan lembut ombak
Kucoba membuat sesuatu dari pasir yang tampak kokoh di atas pasir
Hancur juga bersama hempasan lembut ombak

Mengapa ini terus terjadi
Apakah yang salah dengan pasir
Mengapa ombak selalu menghempas pasir

Di pesisir pantai yang lain berdiri sekumpulan karang
Karang yang kokoh walau diterpa hempasan ombak yang besar
Sekalipun terus menerus tak mempengaruhi kekokohan karang

Mengapa berbeda dengan pasir
Apa yang membuat karang kokoh
Mengapa ombak yang besar tak berpengaruh pada karang

Di sisi yang lain berdiri pohon-pohon kelapa
Menjulang tinggi menampakan keangkuhan kepada laut
Tapi bila ombak laut bisa menggapainya
Barulah ia sadar bahwa ada yang lebih kuat

Kawan apakah kita seperti pasir, karang atau pohon kelapa?

Tangerang, 15 Januari 2008

Lamunanku

Saat perjumpaan kala itu
Ku tersenyum kepadamu
Kau balas senyumanku
Ada sesuatu yang aneh di hatiku

Sesuatu yang telah mati
Kini muncul dan bergairah lagi
Aku tak pernah mengerti
Apakah aku telah jatuh hati

Wajahmu yang begitu ayu
Dibalut seyum yang sahdu
Selalu terbayang dalam lamunanku
Menggantukan dirinya yang lalu

Bahagia terasa di hati
Bunga-bunga mekar kembali


Tangerang, 23 Januari 2008